PMRI
(PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA)
A. Sejarah PMRI
Pendidikan Matematika Realistik
Indonesia (PMRI) merupakan adaptasi dari Realistic
Mathematics Education (RME), teori pembelajaran yang dikembangkan di Belanda sejak tahun 1970-an oleh Hans
Freudenthal. Sejarahnya PMRI dimulai dari usaha
mereformasi pendidikan matematika yang dilakukan oleh Tim PMRI (dimotori oleh Prof. RK Sembiring dkk) sudah
dilaksanakan secara resmi mulai tahun 1998, pada saat tim memutuskan untuk mengirim sejumlah dosen pendidikan
matematika dari beberapa
LPTK di Indonesia untuk mengambil program S3 dalam bidang pendidi
kan matematika di Belanda.Selanjutnya ujicoba awal PMRI sudah dimulai sejak akhir 2001 di delapan sekolah dasar dan empat madrasah ibtidaiyah. Kemudian, PMRI mulai diterapkan secara serentak mulai kelas satu di Surabaya, Bandung
dan Yogyakarta. Setelah
berjalan delapan tahun, pada tahun 2009 terdapat 18 LPTK yang terlibat, yaitu 4
LPTK pertama ditambah UNJ (Jakarta),
FKIP Unlam Banjarmasin, FKIP Unsri Palembang,
FKIP Unsyiah (Banda Aceh), UNP (Padang), Unimed (Medan), UM (Malang), dan UNNES (Semarang),
UM (Universitas Negeri Malang), dan Undiksa Singaraja,
Bali, UNM Makassar, UIN Jakarta,Patimura Ambon, Unri Pekan Baru, dan Unima Manado. Â Selain itu juga
ada Unismuh, Uiversitas Muhamadiyah Purwokertodan
STKIP PGRI Jombang. Jumlah sekolah yang terlibat, dalam hal ini disebut sekolah
mitra LPTK tidak kurang dari 1000
sekolah,Sejarah PMRI bisa dibaca
pada buku 10 tahun PMRI di Indonesia ( A decade of PMRI in Indonesia, diterbitkan di Belanda) yang sudah
beredar diseluruh dunia.kan matematika di Belanda.Selanjutnya ujicoba awal PMRI sudah dimulai sejak akhir 2001 di delapan sekolah dasar dan empat madrasah ibtidaiyah. Kemudian, PMRI mulai diterapkan secara serentak mulai kelas satu di Surabaya, Bandung
B. Pendekatan PMRI
PMRI (Pendidikan Matematika
Realistik Indonesia) atau RME (Realistic Mathematics
Education) adalah teori pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang riil atau pernah dialami siswa, menekankan
keterampilan proses, berdiskusi dan berkolaborasi,
berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri (student inventing) sebagai
kebalikan dari (teacher telling) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik
secara individu maupun kelompok
dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Pada pendekatan PMRI, guru
berperan tidak lebih dari seorang fasilitator atau pembimbing, moderator dan evaluator. Sutarto Hadi (2005) menyebutkan
bahwa diantara peran guru dalam PMRI
adalah sebagai berikut :
1.
Guru hanya sebagai fasilitator belajar;
2.
Guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif;
3.
Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyumbang pada proses belajar dirinya, dan secara
aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil; dan
4.
Guru tidak terpancang pada materi yang termaktub dalam kurikulum, melainkan
aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia riil,
baik fisik maupun sosial.
Dengan penerapan PMRI di
Indonesia diharapkan prestasi akademik siswa meningkat,
baik dalam mata pelajaran matematika maupun mata pelajaran lainnya. Sejalan dengan paradigma baru
pendidikan sebagaimana yang dikemukakan Zamroni (dalam Sutarto Hadi, 2005), pada aspek prilaku
diharapkan siswa mempunyai ciri-ciri :
1.
Di kelas mereka aktif dalam diskusi, mengajukan pertanyaan dan gagasan, serta
aktif dalam mencari bahan-bahan
pelajaran yang mendukung apa yang tengah dipelajari;
2.
Mampu bekerja sama dengan membuat kelompok-kelompok belajar;
3.
Bersifat demokratis, yakni berani menyampaikan gagasan, mempertahankan gagasan dan sekaligus berani pula menererima gagasan
orang lain;
4.
Memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
RME banyak diwarnai oleh
pendapat Profesor Hans Freudenthal (1905 – 1990), seorang penulis, pendidik, dan matematikawan
berkebangsaan Jerman/Belanda. Freudenthal
berkeyakinan bahwa siswa tidak boleh dipandang sebagai penerima pasif matematika yang sudah jadi (passive
receiver of ready-made mathematics). Dua pandangan
penting beliau adalah matematika harus dihubungkan dengan realitas dan matematika sebagai aktivitas
manusia (mathematics as human activities), (Freudenthal, 1991). Pertama,
matematika harus dekat terhadap siswa dan harus dikaitkan dengan situasi kehidupan mereka sehari-hari. Kedua,
matematika sebagai aktivitas manusia sehingga
siswa harus diberi kesempatan untuk belajar melakukan aktivitas matematisasi pada semua topik dalam matematika.
C. Prinsip PMRI
Prinsip-prinsip
PMRI adalah sebagai berikut :
1.
Guided reinvention and didactical phenomenology
Karena
matematika dalam belajar RME adalah sebagai aktivitas manusia maka guided reinvention dapat diartikan bahwa
siswa hendaknya dalam belajar matematika harus diberikan
kesempatan untuk mengalami sendiri proses yang sama saat matematika ditemukan. Prinsip ini dapat
diinspirasikan dengan menggunakan prosedur secara informal. Upaya ini akan tercapai jika pengajaran yang
dilakukan menggunakan situasi yang
berupa fenomena-fenomena yang mengandung konsep matematika dan nyata terhadap kehidupan siswa.
2. Progressive mathematization
Situasi
yang beriisikan fenomena yang dijadikan bahan dan area aplikasi dalam pengajaran matematika haruslah
berangkat dari keadaan yang nyata terhadap siswa sebelum mencapai tingkat matematika secara formal. Dalam hal ini
dua macam matematisasi
haruslah dijadikan dasar untuk berangkat dari tingkat belajar matematika secara real ke tingkat belajar
matematika secara formal.
3. Self-developed models
Peran
self-developed models merupakan jembatan bagi siswa dari situasi real ke
situasi konkrit atau dari informal
matematika ke formal matematika. Artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah. Pertama adalah
model suatu situasi yang dekat
dengan alam siswa. Dengan generalisasi dan formalisasi model tersebut akan menjadi berubah menjadi model-of
masalah tersebut. Model-of akan bergeser menjadi model-for masalah yang sejenis. Pada akhirnya akan menjadi model
dalam formal matematika.
D. Karakteristik PMRI
PMRI
mempunyai lima karakteristik yaitu :
1.
Menggunakan masalah kontekstual
Masalah kontekstual sebagai
aplikasi dan sebagai titik tolak dari mana matematika yang
diinginkan dapat muncul.
2.
Menggunakan model atau jembatan dengan instrumen vertical
Perhatian diarahkan pada
pengembangan model, skema dan simbolisasi dari pada hanya mentransfer rumus atau
matematika formal secara langsung.
3.
Menggunakan kontribusi siswa
Kontribusi yang besar pada proses belajar
mengajar diharapkan dari konstruksi siswa sendiri yang mengarahkan mereka
dari metode unformal mereka ke arah yang lebih formal atau standar.
4.
Interaktivitas
Negosiasi
secara eksplisit, intervensi, kooperasi dan evaluasi sesama siswa dan guru
adalah faktor penting dalam proses belajar secara konstruktif dimana strategi
informal siswa digunakan sebagai jantung untuk mencapai yang formal.
5.
Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya
Pendekatan holistik, menunjukkan bahwa
unit-unit belajar tidak akan dapat dicapai secara terpisah tetapi keterkaitan dan
keterintegrasian harus dieksploitasi dalam pemecahan masalah.
E. Model pembelajaran PMRI
Untuk mendesain suatu model
pembelajaran berdasarkan teori PMRI, model tersebut
harus mempresentasikan karakteristik PMRI baik pada tujuan, materi, metode, dan evaluasi (Zulkardi, 2002;
2004).
1.
Tujuan
Dalam
mendesain, tujuan haruslah melingkupi tiga level tujuan dalam RME : lover
level, middle level, and high
level. Jika pada level awal lebih difokuskan pada ranah kognitif maka dua tujuan terakhir menekankan pada
ranah afektif dan psikomotorik seperti kemampuan
berargumentasi, berkomunikasi, justifikasi, dan pembentukan sikap kristis siswa.
2.
Materi
Desain
guru open material atau materi terbuka yang didiskusikan dalam realitas, berangkat dari konteks yang
berarti; yang membutuhkan; keterkaitan garis pelajaran terhadap unit atau topik lain yang real secara original
seperti pecahan dan persentase; dan alat
dalam bentuk model atau gambar, diagram dan situasi atau simbol yang dihasilkan
pada saat proses
pembelajaran. Setiap konteks biasanya terdiri dari rangkaian soal-soal yang menggiring siswa ke
penemuan konsep matematika suatu topik.
3.
Aktivitas
Atur
aktivitas siswa sehingga mereka dapat berinteraksi sesamanya, diskusi,
negosiasi, dan kolaborasi. Pada situasi
ini mereka mempunyai kesempatan untuk bekerja, berfikir dan berkomunikasi tentang matematika. Peranan guru hanya
sebatas fasilitator atau pembimbing,
moderator dan evaluator.
4.
Evaluasi
Materi
evaluasi biasanya dibuat dalam bentuk open-ended question yang memancing siswa untuk menjawab secara bebas dan
menggunakan beragam strategi atau beragam jawaban
atau free productions. Evaluasi harus mencakup formatif atau saat pembelajaran berlangsung dan sumatif, akhir unit atau
topik.
Pembelajaran
matematika menggunakan PMRI di Indonesia mulai diujicobakan pada tahun 2001 di
12 SD termasuk 4 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) atas permintaan Departemen
Agama, bekerjasama dengan 4 LPTK: Universitas Pendidikan Indonesia I(UPI)
Bandung, Universitas Sanata Darma (USD) Yogyakarta, Universitas Negeri
Yogyakarta (UNY) dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Beberapa
penelitian tentang PMRI telah dilaksanakan di Indonesia, diantaranya adalah
penelitian yang dilakukan Fauzan (2002) tentang implementasi materi
pembelajaran realistik untuk topik luas dan keliling di kelas 4 sekolah dasar
(SD) di Surabaya menunjukkan bahwa para guru dan siswa menyukai materi
pembelajaran matematika dengan pendekatan PMRI, proses belajar mengajar menjadi
lebih baik, dimana siswa lebih aktif dan kreatif, guru tidak lagi menggunakan
metode ‘chalk and talk’, dan peran guru berubah dari pusat proses belajar
mengajar menjadi pembimbing dan narasumber.
Disamping
itu, Penelitian Armanto (2002) tentang pengembangan alur pembelajaran lokal
topik perkalian dan pembagian dengan pendekatan realistik di SD di dua kota
yaitu Yogyakarta dan Medan menunjukkan bahwa siswa dapat membangun pemahaman
tentang perkalian dan pembagian dengan menggunakan strategi penjumlahan dan
pembagian berulang, siswa belajar perkalian dan pembagian secara aktif, dan
mendapatkan hasil (menyelesaikan soal) baik secara individu maupun kelompok.
Temuan
yang sama juga dilaporkan dalam penelitian di Bandung, yaitu siswa-siswa SLTP
di sekolah percobaan menunjukkan perubahan sikap yang positif terhadap
matematika, hal itu dipandang sebagai permulaan yang baik dalam pengembangan
pendidikan matematika di Indonesia (Zulkardi, 2002).
Dari
beberapa hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa PMRI merupakan suatu
pendekatan pembelajaran yang sangat membantu untuk pengembangan pemahaman
konsep matematika siswa, siswa mampu menemukan sendiri konsep matematika, siswa
menjadi lebih aktif dan mampu berinteraksi dengan teman-temannya maupun dengan
gurunya, dan guru tidak lagi menjadi pusat belajar mengajar melainkan guru
sebagai fasilitator, motivator, moderator dan evaluator. Pembelajaran PMRI
diharapkan bisa dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia mengingat dengan
pendekatan ini proses pembelajaran semakin bermakna, konteks pembelajarannya
tergantung dari sumber daya daerah masing-masing dan siswa tidak lagi terbebani
dalam belajar matematika.
F. Standar Guru PMRI
Ada
lima standar guru PMRI yaitu:
1. Guru memiliki pengetahuan
dan keterampilan yang memadai tentang PMRI dan dapat menerapkannya dalam pembelajaran matematika
untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
2. Guru mendampingi siswa
dalam berpikir, berdiskusi, dan bernegosiasi untuk mendorong inisiatif dan
kreativitas siswa.
3. Guru mendampingu dan
mendorong siswa agar berani mengungkapkan gagasan dan menemukan strategi pemecahan
masalah menurut mereka sendiri.
4. Guru mengelola kerjasama
dan diskusi siswa dalam kelompok atau kelas sehingga siswa dapat saling
belajar.
5. Guru bersama siswa
menyimpulkan konsep matematika melalui proses refleksi dan konfirmasi.
G. Standar Pembelajaran PMRI
Standar
pembelajaran PMRI ada lima, yaitu:
1. Pembelajaran materi baru diawali dengan
masalah realistik sehingga siswa dapat mulai berpikir dan bekerja.
2. Pembelajaran memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengeksplorasi masalah yang diberikan guru dan bertukar pendapat
sehingga siswa dapat saling belajar dan meningkatkan
pemahaman konsep.
3. Pembelajaran mengaitkan berbagai konsep
matematika untuk membuat pembelajaran lebih
efisien.
4. Pembelajaran mengaitkan berbagai konsep
matematika untuk memberi kesempatan bagi
siswa belajar matematika secara utuh, yaitu menyadari bahwa konsep-konsep dalam matematika saling berkaitan.
5. Pembelajaran materi
diakhiri dengan proses konfirmasi untuk menyimpulkan konsep matematika
yang telah dipelajari dan dilanjutkan dengan latihan untuk memperkuat pemahaman.
H. Standar Bahan Ajar PMRI
Standar
bahan ajar PMRI diantaranya adalah:
1. Bahan ajar menggunakan
permasalahan realistik untuk memotivasi siswa dan membantu siswa dalam memahami konsep
matematika.
2. Bahan ajar mengaitkan
berbagai konsep matematika untuk memberi kesempatan bagi siswa belajar matematika secara utuh,
yaitu menyadari bahwa konsep-konsep dalam matematika saling berkaitan.
3. Bahan ajar memuat materi pengayaan dan remidi
untuk mengakomodasi perbedaan caraberpikir
siswa.
4. Bahan ajar memuat petunjuk
tentang kegiatan yang memotivasi siswa menjadi lebih kreatifdan inovatif dalam
mengembangkan strategi.
5. Bahan ajar memuat petunjuk
tentang aktivitas yang mengembangkan interaksi dan kerjasama antar siswa.
I. Standar Lokakarya PMRI
Standar
lokakarya PMRI yaitu:
1.
Kegiatan lokakarya berorientasi pada proses dan produk yang memudahkan mereka memahami konsep
PMRI dan dapat digunakan di sekolah.
2.
Lokakarya memfasilitasi peserta dalam mengalami sendiri aktivitas terkait karakteristik PMRI untuk membangun pengetahuan dan keterampilan mereka.
3.
Materi lokakarya disesuaikan dengan tuntutan kurikulum, praktik yang
berlangsung di sekolah dan situasi ideal untuk meningkatkan
adaptabilitas PMRI di sekolah.
4.
Selama lokakarya peserta melakukan refleksi tentang kaitan antara aktivitas
yang dikerjakan dan konsep matematikanya.
5.
Lokakarya memberdayakan dan menumbuhkan kepercayaan diri peserta tentang PMRI ssehingga dapat menerapkannya secara
konsisten di sekolah.
PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK
INDONESIA (PMRI):
PERKEMBANGAN dan TANTANGANNYA
Robert K Sembiring
Abstract
This paper is about PMRI, the Indonesian
version of realistic
mathematics education developed in the
Netherlands. It is a movement to
reform mathematics education in
Indonesia. What and why PMRI and
the problems and challenges it faces in
its development. It began as a
small experiment ten years ago, now
becomes a national movement.
Keywords:
PMRI, realistic mathematics education
PENDAHULUAN
Sejarah kurikulum dan pelajaran matematika
sekolah di Indonesia cukup
panjang. Soedjadi (Sejarah PMRI, bab 2)
membaginya atas: (1) era sebelum 1975, (2)
era matematika modern, (3) kembali ke
berhitung 1990-an , dan (4) masa “terpadu”.
Dalam periode terakhir ini mulai muncul
perubahan paradigma dari guru mengajar
(teacher centered) ke siswa
belajar (student centered). Pemecahan masalah (problem
solving)
kembali mendapat perhatian penting. Berbagai metode, kata Soedjadi
selanjutnya, dicobakan: PBI (problem
based instruction), discovery method,
cooperative learning, CTL
(Contextual Teaching and Learning),
konstruktivisme,
PAKEM (Pembelajaran yang Aktif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan). Semua
metode ini bersifat umum, tidak khusus
untuk matematika. Mengenai berbagai
pendekatan ini dibahas khusus di Bab 4
buku Sejarah PMRI yang akan diterbitkan
oleh Dikti. Sayangnya, hampir semua
inovasi ini berumur pendek, seumur proyeknya,
dan berdampak kurang signifikan.
PMRI muncul sebagai metode khusus untuk
matematika. Tulisan ini khusus
membahas sejarah, perkembangan dan
tantangan yang dihadapi dalam
mendiseminasikan PMRI di tanah air.
Pembaca yang tertarik mengetahui lebih rinci
tentang PMRI, baik sejarah, teori yang
mendasarinya, pelaksanaannya di sekolah,
pandangan para pakar pendidikan
internasional tentang PMRI dapat memperolehnya
12
Robert K. Sembiring
dari buku A decade of PMRI in
Indonesia, editor Sembiring, Hoogland & Dolk,
Bandung-Utrecht 2010. Buku ini telah
diperbanyak oleh Kementerian Pendidikan
Nasional dengan kata pengantar oleh
Wakil Menteri, Prof. Fasli Jalal, Ph. D. Juga
diharapkan akan terbit segera Sejarah
PMRI dengan editor Suryanto dkk. Buku
terakhir ini semuanya sumbangan tulisan
para pelakunya, mulai dari pengalaman
penggagasnya sampai pengalaman pelaksana
di lapangan.
APA DAN MENGAPA PMRI
PMRI digagas oleh sekolompok pendidik
matematika di Indonesia. Motivasi
awal ialah mencari pengganti matematika
modern yang ditinggalkan awal 1990-an.
Penggantinya hendaklah yang tidak
menakutkan siswa, jadi ramah dan dapat
menaikkan prestasi matematika siswa di
dunia internasional. Di samping itu,
matematika pada dasarnya bersifat
demokratis, jadi wajar bila melalui matematika
dapat ditanamkan budaya demokratis pada
siswa. Pencarian yang lama akhirnya
menemukan jawabannya lewat RME (Realistic
Mathematics Education) yang
diterapkan dengan sukses di Belanda
sejak 1970-an dan juga di beberapa negara lain,
seperti di Amerika Serikat
(disebut,a.l., Mathematics in Context). Salah satu
permasalahan terbesar dengan matematika
modern ialah menyajikan matematika
sebagai produk jadi, siap pakai, abstrak
dan diajarkan secara mekanistik: guru
mendiktekan rumus dan prosedur ke siswa
(Fauzan, 2002). Fauzan mengamati di
kelas bahwa banyak murid menggunakan
prosedur tanpa memahaminya.
PMRI merupakan suatu gerakan untuk
mereformasi pendidikan matematika di
Indonesia. Jadi bukan hanya suatu metode
pembelajaran matematika, tapi juga suatu
usaha melakukan transformasi sosial
(Sembiring, 2007). Karakteristik dari pendekatan
tersebut adalah:
siswa lebih aktif berpikir,
konteks dan bahan ajar terkait
langsung dengan lingkungan sekolah dan siswa,
peran guru lebih aktif dalam merancang
bahan ajar dan kegiatan kelas.
Suatu transisi dari cara tradisional,
pendekatan yang berorientasi pada kemampuan
teknis ke arah reformasi pendidikan
matematika yang berdasarkan pemecahan
masalah merupakan inovasi yang kompleks.
Ini menuntut perubahan pada sikap guru
dalam mengajar dan memperlakukan siswa.
Faktor penting dalam menjamin
kesuksesan reformasi ini adalah
pelatihan guru dan pendidikan guru di LPTK. Faktor
lain ialah baik guru dan dosen yang
terlibat merasa bahwa reformasi ini milik mereka.
Rasa kepemilikan akan tumbuh bila para
dosen dan guru didorong terlibat dalam
pengembangannya, jadi bukan sebagai alat
saja. PMRI disebarkan berdasarkan model
bottom up,
LPTK dan sekolah ikut atas keinginan sendiri, bukan instruksi dari atas.
Ada tiga prinsip dasar dalam RME/PMRI,
yaitu: penemuan kembali secara
terbimbing, fenomenologi didaktis, dan
prinsip model mediasi. Ketiga dasar tadi
terinspirasi oleh pandangan Freudenthal
yang menganggap ‘ matematika sebagai
kegiatan manusia’ (Sembiring,
Hadi, Dolk, 2008; Sejarah PMRI, bab 3). Kata ‘real’
dalam ‘realistik’ maksudnya real dalam
arti bermakna bagi siswa. Dalam teori
RME/PMRI pelajaran diawali dari bahan
yang kontekstual yang real dari segi
pengalaman siswa (Gravemeijer, 2010).
Reformasi pendidikan matematika
beralaskan dua tiang: pertama adalah
kemampuan guru menciptakan budaya kelas
yang berorientasi permasalahan dan
mengajak siswa dalam pelajaran yang
bersifat interaktif, dan yang kedua ialah
merancang kegiatan pelajaran yang dapat
mendorong penemuan kembali matematika
bersama dengan kemampuan guru menolong
proses penemuan kembali (Gravemeijer,
2010).
PERKEMBANGAN PMRI
Persiapan awal meliputi sosialisasi pada
para dosen matematika, pimpinan
LPTK, pejabat penting Diknas, khususnya
Dikti, guru, termasuk kepala sekolah.
Untuk mempersiapkan adanya tenaga akhli
, pada thn 1998 enam dosen matematika
LPTK dikirim ke Belanda belajar RME
untuk S3 atas biaya Dikti. Sekarang mereka
menjadi tenaga inti dalam PMRI.
Percobaan pertama di sekolah dimulai 2001 di 12
SD termasuk 4 MIN atas permintaan Dept.
Agama, bekerjasama dengan 4 LPTK:
UPI, USD, UNY, dan UNESA, masing-masing
bekerjasama dengan 2 SD dan 1 MIN.
Sekarang sudah mencakup 20 LPTK dan
banyak sekolah. Pendukung utama dana dari
awal sampai sekarang adalah Dikti. Dari
2003 – 2005 diperoleh bantuan dari PBSI
Belanda, termasuk 3 konsultan. Dari 2006
– 2010 diperoleh bantuan yang lebih besar
dari Belanda melalui proyek NPT/NUFFIC.
Sejak 2010 Balitbang Diknas juga turut
memberi bantuan finansial.
Faktor utama yang menjadi perhatian
dalam melakukan reformasi ini adalah
guru dan dosen yang harus bekerja sama.
Mereka dipersiapkan melalui workshop
14
Robert K. Sembiring
yang meliputi kegiatan menyiapkan bahan
ajar yang kontekstual, bagaimana
mengatur siswa bekerja dalam kelompok
dan memandu diskusi kelas, tidak
menggurui tapi mendorong siswa berani
mengeluarkan pendapat, dsb. Dosen
didorong turun ke sekolah dan memandu
pertemuan berkala antar guru. Workshop
selalu mengacu pada kegiatan di kelas.
Sebelum workshop, Tim PMRI dan konsultan
Belanda melakukan kunjungan ke sekolah
dan melakukan observasi di kelas.
Berdasarkan permasalahan yang ditemukan
di kelas dirancang kegiatan workshop dan
perserta diajak mencari solusinya.
IMPoME .
Untuk mendukung penyediaan tenaga dosen yang paham PMRI di
LPTK sejak 2009 telah dibuka IMPoME
(International Master Programme on
Mathematics Education) di UNESA Surabaya
dan UNSRI Palembang bekerjasama
dengan Universitas Utrecht , Belanda,
asal RME. Beasiswa di sediakan oleh Dikti
selama lebih setahun di Indonesia dan
oleh StuNed/NESO selama setahun di Utrecht.
Dalam jangka tidak terlalu lama
diharapkan kedua institusi LKPTK ini mampu
mengerjakannya sendiri, dan kemudian
menjadi pusat pendidikan matematika realistik
dalam dan luar negeri .
Tantangan yang Dihadapi dalam
Penyebarannya
1. Menyiapkan guru, Kepala sekolah,
Orang tua murid, Dinas, dsb
Mengubah kebiasaan mengajar dari
menggurui menjadi pemfasilitasi/pemandu
bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.
Apalagi yang mau mengadakan
perubahan itu sendiri juga harus
mengubah kebiasaannya. Hal yang sama juga
berlaku bagi kepala sekolah. Orang tua,
pada gilirannya, lebih menekankan
hasil yang baik untuk anaknya. Reformasi
ini melibatkan banyak pihak yang
berkepentingan dalam pendidikan,
khususnya para pengambil keputusan.
Koordinasi antara semuanya, baik di
tingkat pusat maupun daerah, sangat
dibutuhkan. Di sini peran dari Steering
Committee PMRI akan sangat
dibutuhkan. Saat ini Steering Committee
PMRI diketuai oleh Prof. Fasli Jalal,
Ph.D. beranggotakan semua wakil dari
badan Diknas yang terkait seperti
Dikti, Balitbang, Dikdasmen, PMPTK, dan
wakil dari Dept Agama.
2. Pendidikan guru, khususnya PGSD.
PGSD berada pada ujung tombak
dalam pengembangan PMRI. Pimpinan Dikti
minta Tim PMRI
mempersiapkan PGSD agar calon guru SD
lulusan PGSD siap mengajarkan
15
PMRI Perkembangan dan Tantangannya
PMRI tanpa perlu lagi ditatar dulu. Ini
suatu penghematan dana, tenaga, dan
waktu yang besar. Suatu pekerjaan besar
mengingat banyaknya PGSD dengan
kampus yang terpencar-pencar dan beban
mengajar mereka yang sangat besar.
3. Penulisan Bahan Ajar. Bahan
ajar untuk mendukung guru dalam
mengajarkan PMRI jelas mutlak harus
segera disiapkan. Umumnya bahan ajar
yang tersedia di pasaran lebih
menekankan prosedur dan sedikit sekali
memberi peluang bagi siswa untuk
mengembangkan kreativitasnya. Tim
PMRI sudah mengedarkan secara terbatas
bahan ajar kls1yang terdiri atas
Buku Siswa dan Buku Guru, terpisah. Buku
kls 2 akan segera siap dicetak.
Sedangkan bahan untuk kls 3 s/d 6 dalam
penulisan dan uji coba di kelas.
Penulis bahan ajar terdiri atas para
dosen dan guru bekerja dalam tim. Hasil
kerja mereka kemudian dikonsultasikan
pada pakar konsultan dari Belanda.
Kegiatan penulisan bahan ajar ini dari
kls 2 s/d 6 atas dukungan dana dari
Balitbang.
4. Research, khususnya Design Reseach.
Penelitian berkaitan dengan PMRI
sudah cukup banyak dikerjakan, sebagian
besar dalam bentuk tesis S2 ataupun
disertasi S3 dari universitas dalam
maupun luar negeri. Umumnya penelitian
ini berkaitan dengan sekolah. Salah satu
bentuk penelitain yang sedang
digalakkan oleh Tim PMRI ialah design
research. Design research, sering juga
disebut developmental research, bertujuan
memperbaiki praktik pembelajaran
di kelas melalui analisis iteratif (cyclical
prosess) dari dugaan apa yang akan
terjadi di kelas (thought experiments)
dan implementasinya (Gravemeijer,
1994; Gravemeijer & Cobb, 2006).
Penelitian ini amat penting untuk
membantu guru dalam pengembangan contoh
materi ajar dalam PMRI dan
juga dalam pengembangan buku ajar. Tim
PMRI sudah beberapa kali
mengadakan workshop mengenai ini
melibatkan para dosen dan guru di
sekolah.
5. Evaluasi. Sejauh ini beberapa
evaluasi lokal oleh mereka yang terlibat dalam
kegiatan PMRI, baik oleh dosen maupun
guru/sekolah, sudah sering
dilakukan dan hasilnya cukup
menjanjikan. Belum ada evaluasi independen
tentang PMRI.
6. SEAMEO Regional Centre for
QITEP in Mathematics. Departemen
Pendidikan Nasional mendirikan SEAMEO
Regional Centre untuk pendidikan
16
Robert K. Sembiring
matematika di Yogyakarta dan pendidikan
matematika realistik menjadi salah
satu andalannya. Keterlibatan sebagian
anggota Tim PMRI dari awal
merupakan tantangan baru bagi Tim PMRI.
7. Pengembangan. RME/PMRI
bukanlah suatu teori yang sudah selesai, tinggal
pakai. RME/PMRI berkembang sesuai
tuntutan jaman dan kebutuhan
setempat. Mengembangkannya serta sekali
gus menjaga keutuhan konsepnya
merupakan tantangan yang besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar