Jumat, 08 Juni 2012



PMRI (PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA)

A. Sejarah PMRI
                Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan adaptasi dari   Realistic Mathematics Education (RME), teori pembelajaran yang dikembangkan di Belanda sejak tahun 1970-an oleh Hans Freudenthal. Sejarahnya PMRI dimulai dari usaha mereformasi pendidikan matematika yang dilakukan oleh Tim PMRI (dimotori    oleh Prof. RK Sembiring dkk) sudah dilaksanakan secara resmi mulai tahun 1998, pada   saat tim memutuskan untuk mengirim sejumlah dosen pendidikan matematika dari beberapa LPTK di Indonesia untuk mengambil program S3 dalam bidang pendidi
kan      matematika di Belanda.Selanjutnya ujicoba awal PMRI sudah dimulai sejak akhir 2001 di delapan sekolah dasar dan empat madrasah ibtidaiyah.  Kemudian, PMRI mulai diterapkan secara serentak mulai kelas satu di Surabaya, Bandung
dan Yogyakarta. Setelah berjalan delapan tahun, pada tahun 2009 terdapat 18 LPTK yang terlibat, yaitu 4   LPTK pertama ditambah UNJ (Jakarta), FKIP Unlam Banjarmasin, FKIP Unsri Palembang, FKIP Unsyiah (Banda Aceh), UNP (Padang), Unimed (Medan), UM (Malang), dan UNNES (Semarang), UM (Universitas Negeri Malang), dan Undiksa     Singaraja, Bali, UNM Makassar, UIN Jakarta,Patimura Ambon, Unri Pekan Baru, dan Unima Manado. Â Selain itu juga ada Unismuh, Uiversitas Muhamadiyah Purwokertodan STKIP PGRI Jombang. Jumlah sekolah yang terlibat, dalam hal ini disebut sekolah    mitra LPTK tidak kurang dari 1000 sekolah,Sejarah PMRI  bisa dibaca pada buku 10 tahun PMRI di Indonesia ( A decade of   PMRI in Indonesia, diterbitkan di Belanda) yang sudah beredar diseluruh dunia.

B. Pendekatan PMRI
                PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) atau RME (Realistic   Mathematics Education) adalah teori pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang     riil atau pernah dialami siswa, menekankan keterampilan proses, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri (student inventing) sebagai kebalikan dari (teacher telling) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok dalam kehidupan mereka sehari-hari.
                Pada pendekatan PMRI, guru berperan tidak lebih dari seorang fasilitator atau pembimbing, moderator dan evaluator. Sutarto Hadi (2005) menyebutkan bahwa diantara    peran guru dalam PMRI adalah sebagai berikut :
1. Guru hanya sebagai fasilitator belajar;
2. Guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif;
3. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyumbang  pada proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan  persoalan riil; dan
4. Guru tidak terpancang pada materi yang termaktub dalam kurikulum, melainkan aktif                                   mengaitkan kurikulum dengan dunia riil, baik fisik maupun sosial.



                Dengan penerapan PMRI di Indonesia diharapkan prestasi akademik siswa meningkat, baik dalam mata pelajaran matematika maupun mata pelajaran lainnya. Sejalan dengan paradigma baru pendidikan sebagaimana yang dikemukakan Zamroni (dalam Sutarto Hadi, 2005), pada aspek prilaku diharapkan siswa mempunyai ciri-ciri :
1. Di kelas mereka aktif dalam diskusi, mengajukan pertanyaan dan gagasan, serta aktif  dalam mencari bahan-bahan pelajaran yang mendukung apa yang tengah dipelajari;
2. Mampu bekerja sama dengan membuat kelompok-kelompok belajar;
3. Bersifat demokratis, yakni berani menyampaikan gagasan, mempertahankan gagasan dan sekaligus berani pula menererima gagasan orang lain;
4. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

                RME banyak diwarnai oleh pendapat Profesor Hans Freudenthal (1905 – 1990), seorang penulis, pendidik, dan matematikawan berkebangsaan Jerman/Belanda.     Freudenthal berkeyakinan bahwa siswa tidak boleh dipandang sebagai penerima pasif       matematika yang sudah jadi (passive receiver of ready-made mathematics). Dua             pandangan penting beliau adalah matematika harus dihubungkan dengan realitas dan matematika sebagai aktivitas manusia (mathematics as human activities), (Freudenthal,        1991).    Pertama, matematika harus dekat terhadap siswa dan harus dikaitkan dengan situasi kehidupan mereka sehari-hari. Kedua, matematika sebagai aktivitas manusia sehingga siswa harus diberi kesempatan untuk belajar melakukan aktivitas matematisasi  pada semua topik dalam matematika.

C. Prinsip PMRI
Prinsip-prinsip PMRI adalah sebagai berikut :

1. Guided reinvention and didactical phenomenology
Karena matematika dalam belajar RME adalah sebagai aktivitas manusia maka guided reinvention dapat diartikan bahwa siswa hendaknya dalam belajar matematika harus diberikan kesempatan untuk mengalami sendiri proses yang sama saat matematika          ditemukan. Prinsip ini dapat diinspirasikan dengan menggunakan prosedur secara  informal. Upaya ini akan tercapai jika pengajaran yang dilakukan menggunakan situasi  yang berupa fenomena-fenomena yang mengandung konsep matematika dan nyata      terhadap kehidupan siswa.

2. Progressive mathematization
Situasi yang beriisikan fenomena yang dijadikan bahan dan area aplikasi dalam pengajaran matematika haruslah berangkat dari keadaan yang nyata terhadap siswa   sebelum mencapai tingkat matematika secara formal. Dalam hal ini dua macam  matematisasi haruslah dijadikan dasar untuk berangkat dari tingkat belajar matematika secara real ke tingkat belajar matematika secara formal.

3. Self-developed models
Peran self-developed models merupakan jembatan bagi siswa dari situasi real ke situasi   konkrit atau dari informal matematika ke formal matematika. Artinya siswa membuat  model sendiri dalam menyelesaikan masalah. Pertama adalah model suatu situasi yang dekat dengan alam siswa. Dengan generalisasi dan formalisasi model tersebut akan          menjadi berubah menjadi model-of masalah tersebut. Model-of akan bergeser menjadi model-for masalah yang sejenis. Pada akhirnya akan menjadi model dalam formal matematika.
               

D. Karakteristik PMRI
PMRI mempunyai lima karakteristik yaitu :
1.                   Menggunakan masalah kontekstual
    Masalah kontekstual sebagai aplikasi dan sebagai titik tolak dari mana matematika yang                                                                
diinginkan dapat  muncul.
2.                   Menggunakan model atau jembatan dengan instrumen vertical
                Perhatian diarahkan pada pengembangan model, skema dan simbolisasi dari pada hanya                                                              mentransfer rumus atau matematika formal secara langsung.
3. Menggunakan kontribusi siswa
     Kontribusi yang besar pada proses belajar mengajar diharapkan dari konstruksi siswa                                                                 sendiri yang mengarahkan mereka dari metode unformal mereka ke arah yang lebih formal atau standar.
4.                   Interaktivitas
Negosiasi secara eksplisit, intervensi, kooperasi dan evaluasi sesama siswa dan guru adalah faktor penting dalam proses belajar secara konstruktif dimana strategi informal siswa digunakan sebagai jantung untuk mencapai yang formal.
5. Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya
     Pendekatan holistik, menunjukkan bahwa unit-unit belajar tidak akan dapat dicapai secara terpisah tetapi keterkaitan dan keterintegrasian harus dieksploitasi dalam pemecahan masalah.

E. Model pembelajaran PMRI
                Untuk mendesain suatu model pembelajaran berdasarkan teori PMRI, model    tersebut harus mempresentasikan karakteristik PMRI baik pada tujuan, materi, metode,               dan evaluasi (Zulkardi, 2002; 2004).

1. Tujuan
 Dalam mendesain, tujuan haruslah melingkupi tiga level tujuan dalam RME : lover level,              middle level, and high level. Jika pada level awal lebih difokuskan pada ranah kognitif       maka dua tujuan terakhir menekankan pada ranah afektif dan psikomotorik seperti           kemampuan berargumentasi, berkomunikasi, justifikasi, dan pembentukan sikap kristis siswa.

2. Materi
Desain guru open material atau materi terbuka yang didiskusikan dalam realitas,              berangkat dari konteks yang berarti; yang membutuhkan; keterkaitan garis pelajaran        terhadap unit atau topik lain yang real secara original seperti pecahan dan persentase; dan    alat dalam bentuk model atau gambar, diagram dan situasi atau simbol yang dihasilkan                 pada saat proses pembelajaran. Setiap konteks biasanya terdiri dari rangkaian soal-soal                 yang menggiring siswa ke penemuan konsep matematika suatu topik.

3. Aktivitas
Atur aktivitas siswa sehingga mereka dapat berinteraksi sesamanya, diskusi, negosiasi,    dan kolaborasi. Pada situasi ini mereka mempunyai kesempatan untuk bekerja, berfikir         dan berkomunikasi tentang matematika. Peranan guru hanya sebatas fasilitator atau        pembimbing, moderator dan evaluator.

4. Evaluasi
Materi evaluasi biasanya dibuat dalam bentuk open-ended question yang memancing    siswa untuk menjawab secara bebas dan menggunakan beragam strategi atau beragam     jawaban atau free productions. Evaluasi harus mencakup formatif atau saat pembelajaran       berlangsung dan sumatif, akhir unit atau topik.


Pembelajaran matematika menggunakan PMRI di Indonesia mulai diujicobakan pada tahun 2001 di 12 SD termasuk 4 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) atas permintaan Departemen Agama, bekerjasama dengan 4 LPTK: Universitas Pendidikan Indonesia I(UPI) Bandung, Universitas Sanata Darma (USD) Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Beberapa penelitian tentang PMRI telah dilaksanakan di Indonesia, diantaranya adalah penelitian yang dilakukan Fauzan (2002) tentang implementasi materi pembelajaran realistik untuk topik luas dan keliling di kelas 4 sekolah dasar (SD) di Surabaya menunjukkan bahwa para guru dan siswa menyukai materi pembelajaran matematika dengan pendekatan PMRI, proses belajar mengajar menjadi lebih baik, dimana siswa lebih aktif dan kreatif, guru tidak lagi menggunakan metode ‘chalk and talk’, dan peran guru berubah dari pusat proses belajar mengajar menjadi pembimbing dan narasumber.
Disamping itu, Penelitian Armanto (2002) tentang pengembangan alur pembelajaran lokal topik perkalian dan pembagian dengan pendekatan realistik di SD di dua kota yaitu Yogyakarta dan Medan menunjukkan bahwa siswa dapat membangun pemahaman tentang perkalian dan pembagian dengan menggunakan strategi penjumlahan dan pembagian berulang, siswa belajar perkalian dan pembagian secara aktif, dan mendapatkan hasil (menyelesaikan soal) baik secara individu maupun kelompok.
Temuan yang sama juga dilaporkan dalam penelitian di Bandung, yaitu siswa-siswa SLTP di sekolah percobaan menunjukkan perubahan sikap yang positif terhadap matematika, hal itu dipandang sebagai permulaan yang baik dalam pengembangan pendidikan matematika di Indonesia (Zulkardi, 2002).
Dari beberapa hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa PMRI merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang sangat membantu untuk pengembangan pemahaman konsep matematika siswa, siswa mampu menemukan sendiri konsep matematika, siswa menjadi lebih aktif dan mampu berinteraksi dengan teman-temannya maupun dengan gurunya, dan guru tidak lagi menjadi pusat belajar mengajar melainkan guru sebagai fasilitator, motivator, moderator dan evaluator. Pembelajaran PMRI diharapkan bisa dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia mengingat dengan pendekatan ini proses pembelajaran semakin bermakna, konteks pembelajarannya tergantung dari sumber daya daerah masing-masing dan siswa tidak lagi terbebani dalam belajar matematika.

F. Standar Guru PMRI
Ada lima standar guru PMRI yaitu:
1.       Guru memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai tentang PMRI dan dapat  menerapkannya dalam pembelajaran matematika untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
2.       Guru mendampingi siswa dalam berpikir, berdiskusi, dan bernegosiasi untuk mendorong inisiatif dan kreativitas siswa.
3.       Guru mendampingu dan mendorong siswa agar berani mengungkapkan gagasan dan menemukan strategi pemecahan masalah menurut mereka sendiri.
4.       Guru mengelola kerjasama dan diskusi siswa dalam kelompok atau kelas sehingga siswa dapat saling belajar.
5.       Guru bersama siswa menyimpulkan konsep matematika melalui proses refleksi dan konfirmasi.


G. Standar Pembelajaran PMRI
Standar pembelajaran PMRI ada lima, yaitu:
1.        Pembelajaran materi baru diawali dengan masalah realistik sehingga siswa dapat mulai                    berpikir dan bekerja.

2.        Pembelajaran memberi kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi masalah yang                                    diberikan guru dan bertukar pendapat sehingga siswa dapat saling belajar dan           meningkatkan pemahaman         konsep.

3.        Pembelajaran mengaitkan berbagai konsep matematika untuk membuat pembelajaran                                     lebih efisien.

4.        Pembelajaran mengaitkan berbagai konsep matematika untuk memberi kesempatan     bagi siswa belajar matematika secara utuh, yaitu menyadari bahwa konsep-konsep dalam matematika saling berkaitan.

5.       Pembelajaran materi diakhiri dengan proses konfirmasi untuk menyimpulkan konsep       matematika yang telah dipelajari dan dilanjutkan dengan latihan untuk memperkuat                pemahaman.

H. Standar Bahan Ajar PMRI
Standar bahan ajar PMRI diantaranya adalah:
1.       Bahan ajar menggunakan permasalahan realistik untuk memotivasi siswa dan                                      membantu siswa dalam memahami konsep matematika.
2.       Bahan ajar mengaitkan berbagai konsep matematika untuk memberi kesempatan bagi                      siswa belajar matematika secara utuh, yaitu menyadari bahwa konsep-konsep dalam                             matematika saling berkaitan.
3.        Bahan ajar memuat materi pengayaan dan remidi untuk mengakomodasi perbedaan    caraberpikir siswa.
4.       Bahan ajar memuat petunjuk tentang kegiatan yang memotivasi siswa menjadi lebih       kreatifdan inovatif dalam mengembangkan strategi.
5.       Bahan ajar memuat petunjuk tentang aktivitas yang mengembangkan interaksi dan                           kerjasama antar siswa.

I. Standar Lokakarya PMRI
Standar lokakarya PMRI yaitu:
1. Kegiatan lokakarya berorientasi pada proses dan produk yang memudahkan mereka memahami                           konsep PMRI dan dapat digunakan di sekolah.
2. Lokakarya memfasilitasi peserta dalam mengalami sendiri aktivitas terkait    karakteristik PMRI untuk membangun pengetahuan dan keterampilan mereka.
3. Materi lokakarya disesuaikan dengan tuntutan kurikulum, praktik yang berlangsung di               sekolah dan          situasi ideal untuk meningkatkan adaptabilitas PMRI di sekolah.
4. Selama lokakarya peserta melakukan refleksi tentang kaitan antara aktivitas yang      dikerjakan dan    konsep matematikanya.
5. Lokakarya memberdayakan dan menumbuhkan kepercayaan diri peserta tentang PMRI          ssehingga dapat menerapkannya secara konsisten di sekolah.




PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI):
PERKEMBANGAN dan TANTANGANNYA
Robert K Sembiring
Abstract
This paper is about PMRI, the Indonesian version of realistic
mathematics education developed in the Netherlands. It is a movement to
reform mathematics education in Indonesia. What and why PMRI and
the problems and challenges it faces in its development. It began as a
small experiment ten years ago, now becomes a national movement.
Keywords: PMRI, realistic mathematics education
PENDAHULUAN
Sejarah kurikulum dan pelajaran matematika sekolah di Indonesia cukup
panjang. Soedjadi (Sejarah PMRI, bab 2) membaginya atas: (1) era sebelum 1975, (2)
era matematika modern, (3) kembali ke berhitung 1990-an , dan (4) masa “terpadu”.
Dalam periode terakhir ini mulai muncul perubahan paradigma dari guru mengajar
(teacher centered) ke siswa belajar (student centered). Pemecahan masalah (problem
solving) kembali mendapat perhatian penting. Berbagai metode, kata Soedjadi
selanjutnya, dicobakan: PBI (problem based instruction), discovery method,
cooperative learning, CTL (Contextual Teaching and Learning), konstruktivisme,
PAKEM (Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Semua
metode ini bersifat umum, tidak khusus untuk matematika. Mengenai berbagai
pendekatan ini dibahas khusus di Bab 4 buku Sejarah PMRI yang akan diterbitkan
oleh Dikti. Sayangnya, hampir semua inovasi ini berumur pendek, seumur proyeknya,
dan berdampak kurang signifikan.
PMRI muncul sebagai metode khusus untuk matematika. Tulisan ini khusus
membahas sejarah, perkembangan dan tantangan yang dihadapi dalam
mendiseminasikan PMRI di tanah air. Pembaca yang tertarik mengetahui lebih rinci
tentang PMRI, baik sejarah, teori yang mendasarinya, pelaksanaannya di sekolah,
pandangan para pakar pendidikan internasional tentang PMRI dapat memperolehnya
12
Robert K. Sembiring
dari buku A decade of PMRI in Indonesia, editor Sembiring, Hoogland & Dolk,
Bandung-Utrecht 2010. Buku ini telah diperbanyak oleh Kementerian Pendidikan
Nasional dengan kata pengantar oleh Wakil Menteri, Prof. Fasli Jalal, Ph. D. Juga
diharapkan akan terbit segera Sejarah PMRI dengan editor Suryanto dkk. Buku
terakhir ini semuanya sumbangan tulisan para pelakunya, mulai dari pengalaman
penggagasnya sampai pengalaman pelaksana di lapangan.
APA DAN MENGAPA PMRI
PMRI digagas oleh sekolompok pendidik matematika di Indonesia. Motivasi
awal ialah mencari pengganti matematika modern yang ditinggalkan awal 1990-an.
Penggantinya hendaklah yang tidak menakutkan siswa, jadi ramah dan dapat
menaikkan prestasi matematika siswa di dunia internasional. Di samping itu,
matematika pada dasarnya bersifat demokratis, jadi wajar bila melalui matematika
dapat ditanamkan budaya demokratis pada siswa. Pencarian yang lama akhirnya
menemukan jawabannya lewat RME (Realistic Mathematics Education) yang
diterapkan dengan sukses di Belanda sejak 1970-an dan juga di beberapa negara lain,
seperti di Amerika Serikat (disebut,a.l., Mathematics in Context). Salah satu
permasalahan terbesar dengan matematika modern ialah menyajikan matematika
sebagai produk jadi, siap pakai, abstrak dan diajarkan secara mekanistik: guru
mendiktekan rumus dan prosedur ke siswa (Fauzan, 2002). Fauzan mengamati di
kelas bahwa banyak murid menggunakan prosedur tanpa memahaminya.
PMRI merupakan suatu gerakan untuk mereformasi pendidikan matematika di
Indonesia. Jadi bukan hanya suatu metode pembelajaran matematika, tapi juga suatu
usaha melakukan transformasi sosial (Sembiring, 2007). Karakteristik dari pendekatan
tersebut adalah:
siswa lebih aktif berpikir,
konteks dan bahan ajar terkait langsung dengan lingkungan sekolah dan siswa,
peran guru lebih aktif dalam merancang bahan ajar dan kegiatan kelas.
Suatu transisi dari cara tradisional, pendekatan yang berorientasi pada kemampuan
teknis ke arah reformasi pendidikan matematika yang berdasarkan pemecahan
masalah merupakan inovasi yang kompleks. Ini menuntut perubahan pada sikap guru
dalam mengajar dan memperlakukan siswa. Faktor penting dalam menjamin
kesuksesan reformasi ini adalah pelatihan guru dan pendidikan guru di LPTK. Faktor
lain ialah baik guru dan dosen yang terlibat merasa bahwa reformasi ini milik mereka.
Rasa kepemilikan akan tumbuh bila para dosen dan guru didorong terlibat dalam
pengembangannya, jadi bukan sebagai alat saja. PMRI disebarkan berdasarkan model
bottom up, LPTK dan sekolah ikut atas keinginan sendiri, bukan instruksi dari atas.
Ada tiga prinsip dasar dalam RME/PMRI, yaitu: penemuan kembali secara
terbimbing, fenomenologi didaktis, dan prinsip model mediasi. Ketiga dasar tadi
terinspirasi oleh pandangan Freudenthal yang menganggap ‘ matematika sebagai
kegiatan manusia’ (Sembiring, Hadi, Dolk, 2008; Sejarah PMRI, bab 3). Kata ‘real’
dalam ‘realistik’ maksudnya real dalam arti bermakna bagi siswa. Dalam teori
RME/PMRI pelajaran diawali dari bahan yang kontekstual yang real dari segi
pengalaman siswa (Gravemeijer, 2010).
Reformasi pendidikan matematika beralaskan dua tiang: pertama adalah
kemampuan guru menciptakan budaya kelas yang berorientasi permasalahan dan
mengajak siswa dalam pelajaran yang bersifat interaktif, dan yang kedua ialah
merancang kegiatan pelajaran yang dapat mendorong penemuan kembali matematika
bersama dengan kemampuan guru menolong proses penemuan kembali (Gravemeijer,
2010).
PERKEMBANGAN PMRI
Persiapan awal meliputi sosialisasi pada para dosen matematika, pimpinan
LPTK, pejabat penting Diknas, khususnya Dikti, guru, termasuk kepala sekolah.
Untuk mempersiapkan adanya tenaga akhli , pada thn 1998 enam dosen matematika
LPTK dikirim ke Belanda belajar RME untuk S3 atas biaya Dikti. Sekarang mereka
menjadi tenaga inti dalam PMRI. Percobaan pertama di sekolah dimulai 2001 di 12
SD termasuk 4 MIN atas permintaan Dept. Agama, bekerjasama dengan 4 LPTK:
UPI, USD, UNY, dan UNESA, masing-masing bekerjasama dengan 2 SD dan 1 MIN.
Sekarang sudah mencakup 20 LPTK dan banyak sekolah. Pendukung utama dana dari
awal sampai sekarang adalah Dikti. Dari 2003 – 2005 diperoleh bantuan dari PBSI
Belanda, termasuk 3 konsultan. Dari 2006 – 2010 diperoleh bantuan yang lebih besar
dari Belanda melalui proyek NPT/NUFFIC. Sejak 2010 Balitbang Diknas juga turut
memberi bantuan finansial.
Faktor utama yang menjadi perhatian dalam melakukan reformasi ini adalah
guru dan dosen yang harus bekerja sama. Mereka dipersiapkan melalui workshop
14
Robert K. Sembiring
yang meliputi kegiatan menyiapkan bahan ajar yang kontekstual, bagaimana
mengatur siswa bekerja dalam kelompok dan memandu diskusi kelas, tidak
menggurui tapi mendorong siswa berani mengeluarkan pendapat, dsb. Dosen
didorong turun ke sekolah dan memandu pertemuan berkala antar guru. Workshop
selalu mengacu pada kegiatan di kelas. Sebelum workshop, Tim PMRI dan konsultan
Belanda melakukan kunjungan ke sekolah dan melakukan observasi di kelas.
Berdasarkan permasalahan yang ditemukan di kelas dirancang kegiatan workshop dan
perserta diajak mencari solusinya.
IMPoME . Untuk mendukung penyediaan tenaga dosen yang paham PMRI di
LPTK sejak 2009 telah dibuka IMPoME (International Master Programme on
Mathematics Education) di UNESA Surabaya dan UNSRI Palembang bekerjasama
dengan Universitas Utrecht , Belanda, asal RME. Beasiswa di sediakan oleh Dikti
selama lebih setahun di Indonesia dan oleh StuNed/NESO selama setahun di Utrecht.
Dalam jangka tidak terlalu lama diharapkan kedua institusi LKPTK ini mampu
mengerjakannya sendiri, dan kemudian menjadi pusat pendidikan matematika realistik
dalam dan luar negeri .
Tantangan yang Dihadapi dalam Penyebarannya
1. Menyiapkan guru, Kepala sekolah, Orang tua murid, Dinas, dsb
Mengubah kebiasaan mengajar dari menggurui menjadi pemfasilitasi/pemandu
bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Apalagi yang mau mengadakan
perubahan itu sendiri juga harus mengubah kebiasaannya. Hal yang sama juga
berlaku bagi kepala sekolah. Orang tua, pada gilirannya, lebih menekankan
hasil yang baik untuk anaknya. Reformasi ini melibatkan banyak pihak yang
berkepentingan dalam pendidikan, khususnya para pengambil keputusan.
Koordinasi antara semuanya, baik di tingkat pusat maupun daerah, sangat
dibutuhkan. Di sini peran dari Steering Committee PMRI akan sangat
dibutuhkan. Saat ini Steering Committee PMRI diketuai oleh Prof. Fasli Jalal,
Ph.D. beranggotakan semua wakil dari badan Diknas yang terkait seperti
Dikti, Balitbang, Dikdasmen, PMPTK, dan wakil dari Dept Agama.
2. Pendidikan guru, khususnya PGSD. PGSD berada pada ujung tombak
dalam pengembangan PMRI. Pimpinan Dikti minta Tim PMRI
mempersiapkan PGSD agar calon guru SD lulusan PGSD siap mengajarkan
15
PMRI Perkembangan dan Tantangannya
PMRI tanpa perlu lagi ditatar dulu. Ini suatu penghematan dana, tenaga, dan
waktu yang besar. Suatu pekerjaan besar mengingat banyaknya PGSD dengan
kampus yang terpencar-pencar dan beban mengajar mereka yang sangat besar.
3. Penulisan Bahan Ajar. Bahan ajar untuk mendukung guru dalam
mengajarkan PMRI jelas mutlak harus segera disiapkan. Umumnya bahan ajar
yang tersedia di pasaran lebih menekankan prosedur dan sedikit sekali
memberi peluang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitasnya. Tim
PMRI sudah mengedarkan secara terbatas bahan ajar kls1yang terdiri atas
Buku Siswa dan Buku Guru, terpisah. Buku kls 2 akan segera siap dicetak.
Sedangkan bahan untuk kls 3 s/d 6 dalam penulisan dan uji coba di kelas.
Penulis bahan ajar terdiri atas para dosen dan guru bekerja dalam tim. Hasil
kerja mereka kemudian dikonsultasikan pada pakar konsultan dari Belanda.
Kegiatan penulisan bahan ajar ini dari kls 2 s/d 6 atas dukungan dana dari
Balitbang.
4. Research, khususnya Design Reseach. Penelitian berkaitan dengan PMRI
sudah cukup banyak dikerjakan, sebagian besar dalam bentuk tesis S2 ataupun
disertasi S3 dari universitas dalam maupun luar negeri. Umumnya penelitian
ini berkaitan dengan sekolah. Salah satu bentuk penelitain yang sedang
digalakkan oleh Tim PMRI ialah design research. Design research, sering juga
disebut developmental research, bertujuan memperbaiki praktik pembelajaran
di kelas melalui analisis iteratif (cyclical prosess) dari dugaan apa yang akan
terjadi di kelas (thought experiments) dan implementasinya (Gravemeijer,
1994; Gravemeijer & Cobb, 2006). Penelitian ini amat penting untuk
membantu guru dalam pengembangan contoh materi ajar dalam PMRI dan
juga dalam pengembangan buku ajar. Tim PMRI sudah beberapa kali
mengadakan workshop mengenai ini melibatkan para dosen dan guru di
sekolah.
5. Evaluasi. Sejauh ini beberapa evaluasi lokal oleh mereka yang terlibat dalam
kegiatan PMRI, baik oleh dosen maupun guru/sekolah, sudah sering
dilakukan dan hasilnya cukup menjanjikan. Belum ada evaluasi independen
tentang PMRI.
6. SEAMEO Regional Centre for QITEP in Mathematics. Departemen
Pendidikan Nasional mendirikan SEAMEO Regional Centre untuk pendidikan
16
Robert K. Sembiring
matematika di Yogyakarta dan pendidikan matematika realistik menjadi salah
satu andalannya. Keterlibatan sebagian anggota Tim PMRI dari awal
merupakan tantangan baru bagi Tim PMRI.
7. Pengembangan. RME/PMRI bukanlah suatu teori yang sudah selesai, tinggal
pakai. RME/PMRI berkembang sesuai tuntutan jaman dan kebutuhan
setempat. Mengembangkannya serta sekali gus menjaga keutuhan konsepnya
merupakan tantangan yang besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar